
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat public expoos 2025 di Jakarta, Jumat (7/3/2025).
JBDTBnews.com | JAKARTA — Sejumlah pengamat ekonomi menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah tingkat yang mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia, atau dalam istilah ekonomi disebut undervalued. Penilaian itu merefleksikan bahwa kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat masih lebih lemah ketimbang yang semestinya dilihat dari performa makroekonomi domestik.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur bahwa posisi rupiah yang sempat berada di sekitar Rp 16.880 per dolar AS pada pertengahan Februari ini menunjukkan tekanan yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi riil Indonesia. Menurutnya, mekanisme pasar turut dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian pasar keuangan global dan naiknya premi risiko internasional.
Perry menjelaskan indikator-indikator ekonomi domestik seperti inflasi yang terjaga dalam target 2,5 % ± 1 %, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta imbal hasil yang menarik bagi investor menunjukkan seharusnya rupiah berjalan lebih stabil dan cenderung menguat. Namun dalam jangka pendek, faktor teknikal yang bersifat global disebut telah memberi tekanan pada pergerakan nilai tukar.
Sejumlah ekonom turut sependapat bahwa apabila kondisi volatilitas global tidak segera mereda, nilai tukar rupiah akan terus menghadapi tantangan. Beberapa analis menyatakan bahwa ketidakpastian arah suku bunga dunia, termasuk kebijakan moneter Amerika Serikat, turut mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap mata uang emerging market seperti rupiah.
Meski begitu, BI optimistis bahwa langkah-langkah stabilisasi termasuk intervensi pasar spot dan Non-Deliverable Forward (NDF), serta upaya menarik modal asing melalui instrumen seperti SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN) akan memperkuat kembali posisi mata uang terhadap dolar AS dalam jangka menengah hingga panjang.