
JBDTBnews.com | DEPOK — Aksi demonstrasi buruh di PT Immortal pada 19 Mei 2026 sempat menimbulkan kekhawatiran warga Sukatani dan sekitarnya. Pasalnya, beredar informasi bahwa aksi tersebut akan menutup akses Jalan Pekapuran, yang merupakan jalur utama bagi warga Kecamatan Tapos dan Kecamatan Cimanggis.
Menyikapi hal itu, Forum Warga Sukatani (FWS) bersama Pemuda Tapos (PETA) menggelar aksi tandingan untuk menolak tindakan anarkis serta menolak rencana penutupan Jalan Pekapuran. Saat massa buruh berkumpul di gerbang PT Immortal, FWS dan PETA membentangkan poster berisi ajakan menjaga ketertiban serta imbauan agar aksi dilakukan secara damai. Mereka juga menyampaikan seruan melalui pengeras suara, di antaranya “Tolak aksi anarkis” dan “Tolak demo brutal”.
Sejumlah perwakilan FWS dan PETA, antara lain Pardong, Mulyadi, Uchi Tile, dan Haris Fadillah, bergantian menyampaikan imbauan agar para buruh tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan warga.
“Kami tidak melarang kalian beraksi, itu adalah hak kalian. Namun ingat, ini kampung kami. Tolong jaga ketertiban dan jangan kotori kampung kami dengan hal-hal yang kontra produktif. Jika kalian mencoba bertindak anarkis, apalagi sampai menutup akses jalan warga, kami tidak segan mengusir kalian dari kampung kami,” ujar Ketua PETA, Uchi Tile.
Hal senada disampaikan Haris Fadillah yang mengingatkan agar para demonstran tidak mudah terprovokasi.
“Awas provokasi, karena peserta aksi bukan hanya karyawan sini, tetapi juga dari luar daerah seperti Banten, Karawang, Cianjur, Bekasi, Bogor, dan lainnya. Kami mengimbau agar berhati-hati terhadap provokator. Ini kampung kami, jika ada yang berniat macam-macam, kami akan bertindak menjaga lingkungan kami,” ujarnya.
Berkat imbauan tersebut, aksi buruh berlangsung tertib dan kondusif. Jalan Pekapuran tetap terbuka dan massa aksi tidak menutup akses jalan. Warga pun merasa lega karena kekhawatiran mereka tidak terjadi.
“Alhamdulillah Jalan Pekapuran tetap dibuka. Terima kasih kepada Pak Uchi Tile dan kawan-kawan yang telah berani mendatangi massa buruh dan meminta mereka tertib,” ujar Asep, warga Kampung Ciherang yang bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Ketua RW 03, Katim Umar, juga menyampaikan hal serupa. Ia mengaku bersyukur aktivitas warganya tidak terganggu.
“Banyak warga kami yang bekerja melintasi Jalan Pekapuran. Jika ditutup tentu sangat mengganggu. Terima kasih kepada FWS dan PETA yang berhasil mencegah penutupan jalan,” ujarnya.
Beberapa ketua RW yang dihubungi awak media menyampaikan apresiasi serupa. Mereka menilai penutupan jalan bukanlah tindakan yang tepat, dan upaya FWS serta PETA patut diapresiasi.
Sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda di Kecamatan Tapos dan Kecamatan Cimanggis bahkan menyatakan siap membantu jika terjadi aksi penutupan jalan di masa mendatang.
“Kami siap datang dan membantu. Jika jalan ditutup, kami tidak segan ikut bertindak,” ujar H. Samsudin Alloy.
Ketua Karang Taruna Tapos, Ajis, juga menyatakan kesiapannya mengerahkan anggota jika diperlukan.
Berdasarkan laporan dari lokasi, hingga menjelang Magrib aksi berlangsung tertib dan massa buruh berangsur membubarkan diri.