
JBDTBnews.com | DEPOK — Pemerintah Kecamatan Tapos,bekerja sama dengan MWC NU Tapos,Jejer Tapos,Karang Taruna Kecamatan Tapos,MUI Tapos,DMI Tapos,TP PKK Kecamatan Tapos,PETA 24,Banser Tapos,Padepokan Sunan Kalijaga(Padasuka) Menggelar kegiatan Hari Santri Nasional(HSN) tingkat Kecamatan Tapos yang dirangkai dengan Haul Pahlawan Nyimas Utari Sandijayaningsih.
Acara di gelar di pelataran Makam Nyimas Utari di kawasan Kelurahan Tapos Depok,Sabtu 24 Oktober 2026.
Acara diawali dengan pembacaan Tahlil, penampilan-penampilan santri dari beberapa Pondok Pesantren yang Ada dikecamatan Tapos,lalu gema salawat serta pembacaan rawi, kemudian dibacakan resolusi Jihad 1945 yang dibaca teks nya oleh Ust.H.Uwoh Pramijaya, pembacaan ikrar Santri oleh Santri dari ponpes Nurul Ikhlas,juga dinyanyikan mars Hari Santri Nasional.
Dibacakan pula sejarah singkat hari santri yang disampaikan oleh Kabag Tata Usaha Kantor Kementrian Agama Kota Depok,H Hasan Basri S.Ag M.Pd yang mengatakan bahwa diawal kemerdekaan,ketika Negara belum punya tentara,maka Laskar Hisbillah dan Fiisabilillah Yang notabene terdiri dari para Kyai,para Ulama dan para Santri yang berdiri digaris depan untuk melawan penjajah.
“Hingga ditanggal 22 Oktober 1945,timbulah maklumat ulama yang digemakan oleh KH Hasyim Asyhari yang dikenal dengan Resolusi Jihad,inilah yang kemudian memicu semangat rakyat untuk bangkit melawan penjajah dan timbullah perang Surabaya yang dikenal dengan 10 November”, Ujar Hasan Basri.
Akhirnya pemerintah melalui Keputusan Presiden nomor 22 tahun 2015 menetapkan bahwa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Sedangkan Camat Tapos, H Jarkasih M.Pd menyampaikan bahwa sengaja Hari Santri Tingkat kecamatan Tapos dirangkai dengan Haul Nyimas Utari karena memang waktunya berdekatan dan tujuannya adalah untuk mengenang kembali jasa-jasa perjuangan Nyimas Utari ketika melawan penjajahan.
“Nyimas Utari Sandijayaningsih adalah seorang pejuang Telik sandi kerajaan Mataram Islam yang berperang melawan VOC.
Mataram mengirimkan Telik sandi(Inteljen)wanita Bernama Nyimas Utari untuk bisa menyamar dan masuk ke Bentang VOC di Batavia(sekarang Jakarta,Red).
Nyimas Utari bersama suaminya yang asal Aceh bernama Alimuddin berhasil meracuni Gubernur Jendral VOC Jean Pieterz Coen dan memenggal kepalanya”, Ujar Jarkasih.
Kemudian Nyimas Utari bersama suami dikejar pasukan kompeni hingga lari kewilayah Tapos,dan beliau gugur terkena tembakan tentara VOC di wilayah yang sekarang adalah kelurahan Tapos kecamatan Tapos.
“Kita bangga memiliki seorang pejuang wanita tangguh,maka itu kita kirimkan doa semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik”, Ujar nya lagi.
Ditempat yang sama,salah seorang perwakilan Kraton Yogyakarta,Gus Fakih juga mengungkapkan hal sama,Gus Fakih bahkan menjelaskan silsilah Nyimas Utari sampai ke leluhurnya.
Pada puncak acara,hadirin dengan seksama mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh KH Dr. Raden Syarif Rahmat RA.SQ.MA,
Ketua Padepokan Sunan Kalijaga(Padasuka) yang juga pendiri PWI LS.
“Yang harus kita kenang dan kita doakan adalah para ulama,para Kyai,para pejuang dijalan Allah,yang rela mengorbankan jiwa dan raganya bagi negeri ini, bukan pada orang yang mengaku-ngaku paling berjasa,paling berjuang,tapi sebenarnya mereka hanya mengharapkan pamrih.
Malahayati,Nyimas Utari,Cut Nyak Dien, adalah para pejuang yang Harus kita ingat jasa-jasanya” Ujar Kyai Syarif.
Dilokasi acara,Ketua Jejer Tapos Pardong,mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini.

“Terutama kepada Ustad Rudi yang bekerja keras demi suksesnya acara ini,dan ke semua pihak yang telah membantu baik moril dan materil serta doa,sehingga acara ini sukses”, Ujar pria yang biasa memakai Bajay ini